kilabit.info
Simple | Small | Stable | Secure

Mencoba memahami konflik Israel dan Palestina

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan masalah konflik, apalagi konflik luar, dan untuk masalah konflik Israel dan Palestina ini saya benar-benar blank. Tapi semua orang seperti membicarakan hal ini, sehingga membuat saya penasaran. Salah satu alasan lain untuk mecoba memahami tentang konflik ini adalah karena banyak orang Indonesia yang membuka dompet mereka untuk Palestina. Terakhir saya lihat malah sampai milyaran.

Bukan berarti membantu itu salah, tapi milyaran untuk di sana? Bagaimana dengan di sini? Apakah benar bantuan itu sampai dalam bentuk kesehatan atau makanan? Apakah memberi bantuan menyelesaikan masalah atau memperpanjang masalah? Saya bukannya berpikiran negatif atau memihak salah satu pihak, hanya coba mencari tahu saja dan memiliki jawaban sendiri, dan supaya anda juga memiliki pandangan sendiri.

Dengan bantuin reddit, saya coba rangkum hasil komentar-komentar yang ada berikut dengan tautannya menjadi tulisan di bawah. Apakah komentar dan rangkuman tersebut valid, sesuai dengan fakta, anda bisa cek sendiri. Rangkuman dibuat beberapa minggu lalu, mungkin beberapa diantaranya sudah tidak valid dengan kejadian yang sekarang.

Ada juga sedikit bagian yang merupakan hasil telaah saya sendiri setelah membaca puluhan atau mungkin ratusan komentar dan situs-situs.

Sangat sulit untuk tidak bias dalam melihat konflik antara Israel dan Palestina, tapi lebih mudah untuk tidak memilih salah satu pihak dan melihatnya dari sudut luar, dimulai dari sekarang dan mundur ke belakang, tapi tetap dengan resiko dilihat sebagai memilih pihak. Konflik ini sudah berlangsung lama dan seperti benang kusut yang sangat sulit untuk melihat ujung dan pangkal, bahkan kalaupun bisa dilihat ujungnya masih ada kemungkinan salah.

Beberapa minggu yang lalu tiga anak muda Israel diculik dekat kota Hebron. Pemerintahan Israel menyalahkan Hamas, dan mulai menangkap anggota Hamas di sekitar West Bank dengan tujuan untuk menemukan anak-anak tersebut. Hal ini menjadi sebuah hadiah yang menyenangkan bagi Netanyahu, yang telah menunggu untuk mematahkan pemerintahan gabungan Fatah-Hamas, yang melihat Abbas mencoba menjilat pemerintahan Israel di satu sisi dan menyenangkan hati rakyat Palestina di sisi lain dengan mendukung Hamas (yang dianggap oleh Israel sebagai organisasi teroris). Netanyahu menggunakan kesempatan ini untuk "membersihkan" West Bank dari Hamas sebisa mungkin dengan menangkap anggota Hamas termasuk yang dibebaskan dari perjanjian Gilad Shalit. [1]

Tiga anak muda yang diculik ditemukan mati. [2]

Hal ini menimbulkan respon besar di masyarakat Israel, dan rasisme yang tumbuh sejak puluhan tahun lalu mulai muncul kembali. Pemerintah Israel menyadari kegawatan yang bakal menyembur dari peristiwa tersebut dan telah mencoba sebaik mungkin mengontrol dan menenangkan situasi. Kelompok ekstrimis Israel sampai turun ke jalan meneriakan "mati untuk arab", kontra-protes mulai bermunculan dari masyarakat kiri dan kanan menyerukan anti kekerasan dan menghentikan rasisme, situasinya menjadi semakin ekstrim.

Enam orang pemuda Yahudi ekstrimis yang ditangkap oleh polisi Israel mengaku telah menculik seorang anak Palestina dipengaruhi oleh kejadian sebelumnya dan mungkin juga karena kurangnya kesabaran dan emosi mereka [3]. Anak Palestina itu diculik dengan paksa, membawanya ke hutan terdekat dan, menurut autopsi kemudian berikut pengakuan penculik di depan polisi, menyuruhnya meminum bensin. Setelah itu menyiramnya dengan bensin dan membakarnya.

Hal ini mengakibatkan masyarakat Arab-Israel menggila. Kericuhan dan protes dimulai dari perumahan tempat si anak yang mati, Shuafat, sampai kota-kota yang dihuni secara dominan oleh orang Arab. Polisi Israel merespon dengan mencoba menahan situasi, tapi tidak membantu hal tersebut bila beberapa dari mereka malah tertangkap kamera memukul sepupu dari anak yang mati tersebut [4].

Hamas

Sejak Juni 2011, dana dari Republik Islam Iran kepada Hamas telah ditutup untuk menunjukan "ketidaksenangan karena kegagalan Hamas melakukan demonstrasi publik untuk mendukung Presiden Bashir al Assad" saat perang sipil Siria. Dana dari Muslim Brotherhood di Mesir telah dipotong sehingga Muslim Brotherhood dapat mengalihkan dana untuk "mendukung tumbuhnya revolusi Arab". Setelah Morsi ditumbangkan, dukungan dan kenyamanan yang dimiliki Hamas telah hilang, dan mereka berikut dengan Jalur Gaza memasuki krisis ekonomi. Bergabungnya dengan Fatah baru-baru ini kemungkinan untuk memperbaiki masalah ini.

Pada kenyataannya, setelah Fatah meminta Hamas untuk menghentikan roket mereka, Hamas seperti menyatakan, "Kalian mau kami berhenti? Baik, tapi kalian harus bayar gaji pegawai-pegawai sipil pemerintahan yang kalian telah janjikan". Ini adalah bukti yang sangat jelas terlihat di sini, Hamas jatuh miskin, dan mereka mencoba menggunakan kekuatan militer untuk mengalihkan perhatian masyarakat Gaza dari kesulitan ekonomi dan mendapatkan dana. Ada kemungkinan aksi Israel yang sekarang mencoba untuk mencegah dialog perdamaian antara Fatah dan Hamas ini.

Pada intinya, Hamas melihat kesempatan yang terjadi di Tepi Barat setelah penculikan (yang mana mereka mungkin ikut serta, tapi tidak mengakui sepenuhnya *); Aktivis Hamas yang ada di Tepi Barat, beberapa diantaranya yang mereka coba dengan susah payah bebaskan saat negosiasi Shalit, ditangkap kembali. Jadi bagaimana jalan keluarnya? Hamas tahu bila mereka membawa Israel ikut dalam operasi besar ini, mereka bisa mendapatkan dukungan penuh dari dunia Arab--terutama bila mereka bisa menanganinya sendiri dan mengejutkan Israel dengan kemampuan baru mereka. Hal ini akan membuat mereka mendapatkan dana dari luar, dukungan politik dari orang Palestina, dukungan moral dari dunia Arab, dan kesempatan untuk membebaskan tahanan mereka.

  • Hamas adalah partai dan kelompok militan tanpa jalur komando yang jelas. Beberapa anggota mereka dibantu oleh masyarakat yang benci dengan Yahui, bisa melakukan operasi, seperti penculikan, tanpa izin dari atasan. Jadi penculikan bisa saja berkaitan dengan Hamas, bisa saja tidak, dan Hamas bisa tidak mengakuinya karena tidak pernah memberikan perintah.

Apa yang Hamas lakukan bukanlah hal yang baru. Mereka menjiplak taktik yang Israel gunakan--Perang dan operasi militer untuk memutar kincir politik adalah keahlian Netanyahu (sebagaimana yang terlihat dalam operasi "Tiang Awan" [5], bahkan orang Israel mengakuinya sebagai "perang eleksi").

Respon Pemerintah Israel

Jadi, bagaimana pemerintah Israel merespon semua kejadian ini? Kenyataannya, ini adalah yang pertama kalinya pemerintahan Likud mencoba untuk menenangkan situasi, bukannya menyulut emosi publik. Ada beberapa alasan dari hal ini.

Pertama, setelah pembunuhan tiga pemuda Israel, reaksi dari masyarakat Israel jauh lebih besar dari yang dibayangkan, dan pemerintah Israel berpikir ini bisa diluar kontrol, menjadi perang ras. Kita bisa lihat bahwa pemerintah Israel mencoba untuk menempatkan wajah tenang mereka ke masyarakat, berbeda dengan wajah saat mereka mengetahui bahwa para pemuda tersebut tewas.

Kedua, pemerintah Israel, seperti halnya Hamas, memiliki insentif finansial; Namun kali ini menolak eskalasi. Israel Defense Forces (IDF), Pertahanan Israel, sedang memotong anggaran besar-besaran, dengan pelatihan bagi anggota baru banyak yang dibatalkan, proyek-proyek penelitian dibatalkan, ratusan bahkan ribuan anggota profesional IDF atau akan dipecat, dan lainnya. Sebuah perang sebesar "Cast Lead" [6], atau bahkan "Tiang Awan", bisa menghabiskan uang ratusan miliar bagi pemerintah Israel, atau bahkan trilyunan--Uang yang tidak mudah mereka dapat bahkan dengan bantuan A.S.

Dan kita bisa melihat ini dari respon pertama dari serangan Hamas--Walaupun sebagian besar masyarakat Israel berteriak untuk membalas dendam, pemerintah seperti, "Bisa tidak kita lakukan ini lain kali? Sekarang lagi tidak baik…​".

Eskalasi kecil-kecilan

Jadi, apa yang kemudian terjadi adalah apa yang sering terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Sesuatu yang menyebabkan Hamas menembakan sejumlah kecil misil ke wilayah selatan Israel, Israel merespon dengan serangan udara terbatas, dan biasanya berakhir seperti itu.

Tapi Hamas menembakan lebih dari 70 misil ke berbagai kota-kota penting di Israel, baik di selatan maupun di pusat Israel, termasuk Beersheba, Ashdod, Ashkelon, Rehovot, Herzelia, dan Tel Aviv. Saat itu terjadi dan diberitakan, dua hal terbayang. Pertama, konflik meningkat lebih cepat, dan ternyata Hamas belajar dari Israel. Kenapa? Karena, sampai pada titik sebelumnya, Hamas hanya membalas supaya tampak tidak lemah, tapi mereka benar-benar ingin perang. Tapi ada udang di balik batu. Israel dan Hamas telah mengembangkan semacam "perjanjian tak tertulis", yang membolehkan menembak sejumlah misil tapi merespon dengan tidal terlalu besar dari kedua belah pihak (karena, jika setiap serangan misil dari Gaza atau setiap serangan jet dari Israel dilakukan sebagai serangan balasan, dengan semua yang mereka miliki, tidak akan cukup bahan bakar di dunia untuk menerbangkan roket atau pesawat jet setelah enam bulan). Hamas dan Israel tahu detil umum dan "garis merah" dengan baik, dan Hamas memutuskan untuk melewati garis tersebut. Dua misil, baik. Lima misil, bisa dilupakan. Sepuluh misil bisa dibalas dengan satu atau dua kali serangan udara. Tapi lewat 70 misil untuk hampir ke semua kota di selatan dan pusat Israel? Masyarakat Israel tidak akan memaafkan pemerintah Israel yang penakut, dan Hamas tahu itu.

Pada tahun 2012, Israel menyiapkan dinamit dan membakar sumbunya, menyebabkan terbunuhnya Ahmad Jabari [7], dan merespon secara besar-besaran terhadap roket yang muncul kemudian.

Kali ini situasinya berbeda, Israel menyiapkan dinamit, menyadari bahwa mereka yang menyiapkan dinamit, meneriakan "sialan!" dengan pelan dengan bersamaan lari menjauh dari dinamit, dan sebelum mereka bisa apa-apa, Hamas membakar sumbunya dengan ledakan besar. Dan sekarang Israel melancarkan operasi Protective Edge [8], Hamas menembakan lebih jauh roket mereka (bahkan sampai ke Haifa), dan kedua belah pihak membayar harganya.

Pada titik ini, kedua belah pihak tahu bahwa hal ini tidak akan selesai dalam 2-3 hari. Bila Israel secara publik menyatakan nama operasi mereka, hasilya sudah pasti tidak akan bagus. Berikut rangkuman kejadian sejak awal dari kekacauan ini.

Pada tanggal 7 Juli, 40.000 tentara cadangan Israel dipanggil ke perbatasan antara Gaza dan Israel. Apakah ini berarti operasi darat? Belum diketahui; Israel menggunakan jumlah cadangan yang sama pada operasi Tiang Awan, tapi tidak ada invasi darat yang terjadi.

Hamas mencoba menyelundupkan sejumlah tentara ke wilayah Israel lewat lorong besar. Angkatan udara Israel berhasil membom dan menghancurkan lorong tersebut. Kelompok tentara Hamas di sisi satunya berusaha untuk kabur, tapi peledak yang mereka bawa secara tidak sengaja meledak, membunuh kelompok tersebut. Hal ini ditemukan setelah IDF menemukan ujung keluar lorong tersebut dekat Kerem Shalom.

Hamas juga mencoba serangan laut. Sekelompok tentara Hamas berenang di bawah laut dan mendarat di pantai, mencoba menginfiltrasi pos pertahanan Zikim, atau mungkin kota Zikim itu sendiri. Hal ini tidak berjalan dengan lancar, karena kamera pengaman IDF mendeteksi keberadaan mereka [9], dan tentara IDF dikirim untuk menanganinya, didukung oleh kapal laut [10] mereka.

Dua kejadian ini mungkin menyebabkan turunnya moral Hamas. Kedua operasi ini adalah serangan jauh ke wilayah Israel, mencoba untuk mendikte tempo dari konflik dan meningkatkan moral dari masyarakat Gaza. Tapi keduanya gagal.

Kemampuan yang paling disegani dari Hamas adalah misil dan jarak misil mereka. Pada perang Tiang Awan, mereka membuktikan bahwa misil mereka bisa sampai Tel Aviv. Dan pada saat sekarang, serangan di wilayah metropolitan Tel Aviv adalah hal yang biasa, dan roket telah sampai bahkan ke Zichron Ya'kov -- Sebuah kota yang dekat dari Haifa, sebuah target yang tadinya sangat jauh bagi Hamas. Walaupun Iron Dome mempu menundukan kebanyakan dari roket tersebut, dengan melancarkan ke kota-kota tersebut Hamas secara tidak langsung menyatakan, "Israel bisa menjangkau wilayah manapun di Gaza, sekarang kita bisa menjangkau wilayah manapun di Israel". Pada konflik sebelumnya, beberapa orang di selatan Israel biasanya menginap di tempat saudara mereka di pusat, tapi sekarang sudah percuma. Bahkan kepala angkatan udara Israel mengakui tidak mengetahui dimana roket-roket panjang tersebut disimpan dan diluncurkan.

Sementara itu dari sisi IDF, angkatan udara Israel mencoba menghancurkan target sebanyak mungkin--tempat peluncuran misil, peluncuran bawah tanah, tempat penyimpanan senjata dan misil, sampai rumah-rumah anggota tingkat tinggi Hamas. Pertanyaan sebenarnya adalah--Apa yang bakal terjadi jika target mereka habis? Apakah invasi darat akan terjadi?

Pandangan penulis

Jika dua negara telah berperang selama puluhan tahun, apa yang masyarakat dari negara tersebut bisa lakukan untuk makan? Bertani? Beternak? Mungkin, tapi akan butuh waktu lebih lama. Tapi lebih mungkin lagi dengan menjaga keadaan perang untuk terus berlanjut karena dengan perang mereka akan mendapat dukungan dana dari negara luar, terlebih lagi negara dengan dasar keimanan dan kebencian yang sama. Makanya ada istilah "warlord" di negara-negara perang.

Itulah makanya segala bantuan dana uang sebaiknya tidak perlu diberikan ke Palestina, karena ada kemungkinan akan digunakan untuk membeli persenjataan dan memperpanjang permasalahan.

Israel adalah negara dengan teknologi militer paling terkenal dan maju. Kalau mereka mau, mereka bisa menghabiskan yang namanya wilayah Palestina dalam satu malam, tapi itu akan menimbulkan kecaman dari negara lain dan mungkin perang besar, dengan ikutnya negara lain. Lawan Israel dari dahulu adalah organisasi masyarakat, militan, bukan lawan yang jelas dengan emblem dan markas yang jelas. Lawan mereka adalah militan yang hidup di dalam masyarat Arab Palestina sendiri. Jadi bila mereka menyerang Palestina akan terlihat sebagai serangan terhadap masyarakat sipil bukan kepada militan langsung. Selain itu mereka mendapat keuntungan setiap Palestina menyerang mereka, terutama setelah kejadian penculikan. Secara perlahan-lahan mereka bisa menempatkan markas militer sedikit demi sedikit maju ke depan, dan memagari wilayah tersebut menjadi bagian mereka.

TL;DR Palestina butuh uang.

Sejarah

Keberadaan Yahudi dan Arab telah ada sejak ratusan tahun yang lalu, mereka tidak hanya datang sesudah 1900-an. Menurut alkitab mereka adalah satu suku bangsa dari satu bapak, Ibrahim [18]. Anak Ibrahim adalah Ismail dan Ishak. Ismail adalah anak pertama dari pelayan perempuannya Ibrahim, Hajar, yang bakal menjadi leluhur Arab dan Ishak, anak kedua, lahir dari istri Ibrahim, Sarah, yang bakal menjadi leluhur Yahudi.

Yahudi sering ditaklukan oleh berbagai jenis suku bangsa dan akhirnya memencar ke berbagai belahan dunia. Inilah kenapa anda akan menemukan Yahudi di Timur Tengah, Eropa, dan Asia. Orang Yahudi diperlakukan dengan tidak baik dikebanyakan wilayah tersebut, umumnya karena mereka minoritas dan suka berkumpul sendiri (tidak membaur), dan terkadang mengambil pekerjaan yang membuat orang yang menyukai mereka (misalnya, bank). Tapi itu cerita lain. Masyarakat Yahudi tetap gigih menjaga dan menganggap tanah Israel sebagai tanah air mereka tempat di mana Juru Selamat akan turun.

Sekitar 1800 akhir, beberapa orang Yahudi yang capek menunggu Juru Selamat mendirikan Gerakan Zionist. Ini adalah orang yang berdedikasi mendirikan tanah air Yahudi. Mereka lebih suka Israel dan mau bernegosiasi. Aliyah pertama, gelombang besar migrasi Yahudi, dimulai tahun 1882, sebelum tahun itu Yahudi telah menjadi mayoritas di Yerusalem [14]. Kalau bukan karena perang salib oleh Kristen yang membantai mereka sebelumnya, mungkin sekarang lebih banyak lagi Yahudi di sana. Di tahun 1900-an mereka mendirikan penggalangan dana untuk membantu pembentukan tanah air terjadi.

Pada waktu itu, Palestina berada di bawah Kerajaan Ottoman, dan dana tersebut digunakan untuk membeli tanah (secara legal) di Palestina dari orang yang tinggal di sana pada waktu itu (leluhur dari orang Palestina sekarang yang lebih dikenal dengan "Arab-Palestina") dan mulai menempati tempat di mana para imigran Yahudi tinggal. Beberapa kota-kota modern Israel (seperti Tel Aviv) dimulai sekitar waktu itu.

Ada hukum pada waktu itu yang mengatakan bahwa pemukiman tersebut legal bila dikelilingi oleh dinding dan memiliki menara kawal. Orang Yahudi akan pergi ke tanah yang belum diklaim pada waktu malam, dan sebelum pagi akan mengelilingi sekitar wilayah dengan dinding dan membangun menara. Pemukiman instan. Dan mereka melakukan hal tersebut dekat tanah Arab.

Hal tersebut legal pada waktu itu, tapi menimbulkan sedikit pergesekan. Muslim Arab khawatir dengan banyaknya orang Yahudi tinggal di sebelah rumah mereka.

Di tahun 1920-an, setelah jatuh Kerajaan Ottoman, Liga Bangsa-Bangsa [17] yang baru terbentuk mendeklarasikan Palestina sebagai kekuasaan Britania Raya. Britania, menyadari ketegangan antara Yahudi dan Arab, mencoba menenangkan suasana dengan mencegah imigrasi Yahudi ke Palestina. Hal ini menyebabkan banyaknya imigrasi ilegal - orang Yahudi naik ke atas kapal kecil dan berlayar di tengah malam, untuk bertemu dengan pemukim Yahudi di tepi laut. Pemukiman tengah malam banyak bermunculan, dan semakin mempertegang antara Yahudi dan Arab, dan Yahudi dengan Britania, namun mereka membeli tanah dan bermukim secara legal. Pemukim Yahudi menggunakan banyak taktik teroris pada waktu itu. Pokoknya semuanya kacau.

Menurut catatan sejarah, kekerasan pertama dimulai oleh orang Arab menyerang Yahudi [15][16]. Hal inilah yang menyebabkan munculnya grup teroris Yahudi yaitu Lehi dan Irgun, yang melakukan aksi kekejaman yang sama di tahun-tahun berikutnya, melawan orang Palestina dan Britania Raya. Tapi kekerasan secara jelas dimulai dengan Arab menggantung Yahudi karena mereka Yahudi dan berada di sana.

Pada awal 1900-an, ada banyak orang Arab yang tinggal di wilayah yang disebut Palestina (yang sekarang menjadi negara Israel dan Palestina). Beberapa orang Yahudi datang dan tinggal di tanah tersebut, sehingga membuat para orang Arab marah karena mereka sudah ada di sana dahulu. Hal ini dipersulit dengan fakta bahwa Yahudi telah tinggal di sana juga tapi dulu sekali. Kemudian terjadi perperangan.

Di tahun 1947, setelah Perang Dunia Kedua, setelah kejadian dan horor dari Holocaust terbuka, PBB memutuskan mungkin orang Yahudi tersebut memang butuh tanah air mereka. Deklarasi Balfaour, pada tahun 1917, Britania menyatakan sebagai pendukung berdirinya tanah air Yahudi di Palestina. Dan dilakukanlah pemungutan suara untuk membagi tanah: membuat negara Yahudi dan Arab. Sebagian besar, rencana tersebut diterima oleh orang Yahudi lokal dan ditolak oleh orang Arab lokal dan negara tetangga Arab. Juga, suara Majelis Umum PBB tidak terikat, jadi ini hanyalah rencana. Dan tahun 1948 lahirlah Israel, dengan batas yang belum begitu jelas. Orang Arab tidak senang, karena mereka menganggap PBB mencuri tanah mereka dan memberikannya ke imigran Yahudi. Jadi peranglah mereka, awalnya seperti perang saudara di Palestina, tapi pendirian Israel lebih banyak karena Yahudi mengalahkan tetangga mereka daripada apa yang UN rencanakan dan lakukan. Orang Timur Tengah tidak senang dan mulai perang dengan Israel dan mereka kalah.

Terciptanya Israel dimulai dari dua kejadian: fakta bahwa Britania Raya memiliki kekuasaan terhadap wilayah pada masa itu, dan fakta bahwa Shoah (Holocaust) [11] terjadi. Bila salah satu dari dua kejadian tersebut tidak terjadi, negara Israel tidak akan pernah punya kesempatan untuk ada (Herzl, pendiri Zionism, telah mencoba mengajukan petisi kesemua tempat untuk mendirikan negara Yahudi, tapi selalu ditolak) [12].

Sekarang negara Israel telah berdiri dan telah diterima oleh komunitas internasional (PBB) pada tahun 1948-49, tidak ada lagi yang bisa dilakukan: hal ini tidak bisa dirapikan lagi, dengan kata lain batas "asli" telah diketahui selama kurang lebih 70 tahun. Lebih lanjut, pemerintah Palestina juga telah mengakui keberadaan Israel. Mendiskusikan tentang "validitas" Israel atau bagaimana terbentuknya bisa diperdebatkan, namun negara itu telah ada, dan kita (komunitas internasional) harus menghadapi dan mengakuinya.

Wilayah okupasi belum dianggap sebagai bagian dari Israel oleh PBB. Para imigran yang terus membangun rumah mereka tahu tentang hal ini, dan punya banyak alasan yang lemah ("kami tiba di sini pertama") sampai tidak peduli dengan apa yang orang Palestina pikirkan tentang mereka. Tapi sejak rencana asli dari tahun 1947, kebanyakan tanah yang diklaim oleh Zionist telah dibeli, dan tanah yang belum dibeli dan merupakan bagian dari batas asli Israel seharusnya "diberikan" kembali lewat tanah yang sudah dibeli. Pada dasarnya, gagasannya adalah untuk "membentuk ulang" tanah supaya Israel memiliki satu negara (kecil) keseluruhan tanpa ada "lubang" di tengah, dan negara Arab sisanya. Tentu saja, itu artinya menggeser beberapa populasi dari rumah mereka.

Di tahun 1967 ada perang besar lagi, dikenal dengan "Perang Enam-Hari" [18]. Pada waktu itu Israel diserang oleh tujuh tetangganya, yang mana mereka kalah telak dan membuat Israel mendorong batas mereka sendiri ke wilayah geografis yang lebih "alami" - mereka mendorong perbatasan jauh ke utara Siria, mengambil alih Golan Heights, dengan Yordania sampai ke selat Yordan, mengambil alih Tepi Barat dan Yerusalem Timur, dan mendorong perbatasan dengan Mesir sampai ke Kanal Suez, mengambil alih Gaza dan seluruh Semenanjung Sinai. Saat Mesir setuju berdamai dengan Israel, mereka menginginkan Semenanjung Sinai kembali (yang pada waktu sepertiganya dikuasai Israel) dan permintaan mereka dikabuli, walau ada pemukiman Israel di sana. Mesir tidak meminta Jalur Gaza. Saat Yordania menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel, mereka juga tidak meminta Jalur Gaza.

Hal ini buruk bagi Arab yang tinggal di Tepi Barat dan Jalur Gaza, karena mereka sekarang bagian dari Israel.

Israel sebenarnya mencoba berintegrasi dengan mereka. Banyak yang menerima kewarganegaraan Israel penuh, dengan hak penuh kecuali tidak dibolehkan bergabung dengan militer.

Palestina dipimpin oleh dua partai: Hamas di Jalur Gaza (sebelumnya Fatah, Hamas mengambil alih setelah Israel menarik diri di tahun 2005 setelah perang dengan Fatah), dan Fatah di Tepi Barat. Palestina adalah Non-Anggota Negara Pengamat di PBB. Ini artinya ia tidak dapat memberikan suara dalam resolusi PBB, tapi dapat kursi dalam komite dan organisasi. Palestina adalah negara. Hamas adalah partai politik dengan persenjataan militer. Hamas dianggap sebagai organisasi teroris oleh Israel, A.S, PBB dan beberapa negara lainnya termasuk Yordania dan Mesir, tapi tidak oleh Rusia, Cina, dan negara Arab lainnya. Militer mereka telah dikenal menyerang target militer dan sipil.

Tujuan utama Hamas adalah membebaskan Palestina dan mendirikan negara Muslim di Gaza, Tepi Barat, dan di tempat yang dihuni Israel. Pernah mereka berkata ingin bekerjasama untuk membentuk dua-negara sebaga solusi masalah, tapi mereka juga berkata tidak mengakui negara Israel. Israel telah ditarik penuh dari Gaza sejak 2005, tapi permasalahannya adalah Hamas berdedikasi untuk menghapus Israel.

Sebelumnya, dana Hamas dari Iran, dan kemudian Arab Saudi. Sekarang secara garis besar didanai oleh investor pribadi dari berbagai dunia Arab. Tidak hanya Hamas, banyak organisasi yang didanai dari luar seperti Fatah, Hizbullah, dll. Saat perang dingin Israel mendapat dukungan moneter dari A.S, dan banyak negara Arab mendapat dukungan (baik secara ekonomi maupun militer) dari Uni Soviet.

Salah satu cara Israel menjaga atau mengurangi kekacauan adalah dengan melakukan blokade di setiap jalur masuk untuk menghambat masuknya senjata ke daerah Palestina, supaya tidak ada lagi penyerangan oleh militan. Saat Hamas menembakan roket ke Israel, Israel akan membalas lagi. Secara Tepi Gaza sangat padat, banyak warga sipil yang mati bila Israel menembakan roket. Permasalahan yang lain adalah Israel telah menggunakan fosfor putih [13] untuk pengabur yang diperdebatkan oleh PBB sebagai kejahatan perang.

Di Tepi Barat, Israel lambat laun telah membangun unit rumah di wilayah pemukiman, tapi masih memagari posisi mereka. Inilah penyebab utama perdamaian dengan Palestina belum maju. Katakanlah, jika negara A dan B dalam keadaan konflik, dan setiap kali titik perdamaian tercapai, A mengambil tanah dari B, perdamaian tidak akan berjalan dengan mudah.

Intinya adalah, tidak ada yang menjadi "orang baik" dalam situasi ini kecuali warga Israel dan Palestina yang hanya ingin hidup dengan damai. Pemerintah Israel, Hamas dan Fatah, semuanya adalah penyebab dari kekacauan sekarang ini. Dan tidak penting untuk mencari siapa yang memulai dan siapa yang harus disalahkan, karena kalau begitu terus tidak ada yang kemajuan, hanya berputar di sana terus.